Minggu, 11 November 2012

Definisi komunikasi nonverbal


1.    Definisi komunikasi nonverbal

Description: 123.jpgKomunikasi non verbal adalah tindakan-tindakan manusia yang secara sengaja dikirimkan dan diinterpretasikan seperti tujuannya dan memiliki potensi akan adanya umpan balik dari yang menerimannya. Salah satu aspek penting komunikasi  non verbal adalah pada saat kita berupaya untuk memahami makna dari setiap pesan komunikasinya. Di dalam kehidupan sehari-hari perilaku non verbal sangat beraneka ragam dan banyak serta sangat membantu pembentukan makna pada setiap pesan komunikasi.

Bentuk dasar atau bentuk paling dasar dari komunikasi adalah komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh, intonasi suara, sikap dan sebagainya, yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi tanpa kata-kata (Boove dan Thill, 2003).
A.    Komunikasi Tubuh
Tampak dari semua jenis komunikasi nonverbal komunikasi tubuh adalah yang paling penting. Hal ini bisa dimengerti karena dalam kehidupan manusia komunikasi tubuh paling sering digunakan. Disini kelompok kami akan membahas tentang gestural (body language / bahasa tubuh).
B.     Komunikasi Gestural
Isyarat atau tanda yang berdasarkan keaslian, fungsi dan bentuk perilakunya, komunikasi ini terdiri dari :
1)      Emblem adalah tanda-tanda yang akan mengganti kata-kata atau fase-fase secara langsung. Misalnya, tanda setuju dengan lingkaran jari dan ibu jari, tanda perdamaian dengan membentuk huruf “V” dengan jari, ajakan dengan melambaikan tangan, dan sebagainya.
2)      Illustrator berhubungan dengan upaya untuk menggambarkan suatu pesan. Contohnya, apabila kita ingin menggambarkan bola dunia kita memberikan iliustrasi dengan tangan yang membentuk lingkaran. Bentuk-bentuk non verbal yang bersifat menggambarkan ini, biasanya lebih universal bagi semua orang.
3)      Penampilan efeksi adalah gerakan-gerakan wajah yang mengekspresikan makna-makna emosi: marah, ketakutan, bahagia, hasrat atau kelelahan. Dibandingkan dengan emblem dan bentuk illustrator, penampilan efeksi ini sering disadari oleh actor didalam memainkan peran tertentu. Namun penampilan bisa pula dilakukan tanpa disadari.
4)      Regulator adalah jenis periaku nonverbal, yang bersifat mengatur (monitor, menjaga atau mengontrol) dalam pembicaraan dengan orang lain. Seperti, didalam penerapan kita tidak pasif, menatap mata, menggelengkan atau menganggukan kepala, mengatupkan bibir, memfokuskan tubuh dan membuat paralanguage seperti suara “mm….tsk….cek.. Jenis non verbal ini lebih terkait pada budaya dan bersifat umum. Jelas dalam suatu percakapan, sikap-sikap regulator akan mempengaruhi ucapan-ucapan dari orang yang berbicara.
5)      Adaptor adalah perilaku nonverbal yang dilakukan untuk menciptakan rasa nyaman dalam memenuhi kebutuhan tertentu. Misalkan, merokok pada saat menghadapi ujian, menggaruk kulit yang gatal, dll. Perilaku ini bisa disadari atau tidak disadari tetapi dalam keadaan tertentu, kita sulit menebak perilaku ini.

2.    Fungsi Komunikasi Nonverbal

Menurut Mark Knapp (dalam Cangara, 2004), fungsi komunikasi non verbal adalah :
a.       Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition).
b.      Menunjukkan perasaan atau emosi yang tidak bias diutarakan dengan kata-kata
c.       Menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity).
d.      Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasa belum sempurna.

3.    Manfaat Mempelajari Body Language

Mengamati body language lawan bicara, contoh:
a.       Mengerti apa yang tidak terkatakan, dan ada dipikiran lawan bicara.
b.      Mengenali tanda kebohongan, tanda kebosanan, dan lain-lain.

Memperbaiki body language kita sendiri, contoh:
a.       Membangun hubungan dengan lebih cepat.
b.      Memperkuat pengaruh komunikasi.
c.       Menghindari kesalahpahaman dan misinformasi.
d.      Dan lain-lain.


4.    Beberapa gerakan Gesture

A.    Dibawah ini beberapa gerakan sederhana dari bagian-bagian tubuh yang merupakan komunikasi non-verbal :
1)      Bahasa Kepala :
a.       Condong ke arah Anda: tertarik, setuju.
b.      Menjauh secara mendadak: curiga, tidak percaya.
c.       Topang dagu: bosan.
d.      Mengangguk: setuju.
e.       Banyak menoleh: tidak sabar, ingin menyudahi pembicaraan.

2)      Bahasa Mata :
a.       60 persen menatap langsung: tertarik.
b.      80 persen tatapan langsung: tertarik secara seksual.
c.       100 persen tatapan langsung: perlawanan.
d.      Penghindaran tatapan: menyembunyikan sesuatu.
e.       Lensa mata membesar: sangat tertarik.
f.       Tatapan jatuh ke bawah dan melirik ke kiri/kanan: tertarik pada Anda.
g.      Lirik kanan/kiri langsung: bosan.
h.      Kedipan cepat: tidak setuju.
3)      Bahasa Tangan :
a.       Telapak terbuka ke atas: jujur terbuka.
b.      Telapak di saku atau tertutup: menyembunyikan sesuatu.
c.       Mengepal: tegang, tidak nyaman, marah.
d.      Menutup mulut/hidung: indikasi berbohong.
e.       Membentuk kerucut: percaya diri atau yakin.
f.       Tangan di atas meja: siap untuk setuju.
g.      Jari mengetuk-ngetuk: bosan atau ingin bicara.
4)      Bahasa tubuh lain dengan gerakan tangan:
a.       Memainkan kacamata. Gerakan ini menunjukkan seseorang ingin mengulur-ulur waktu sampai ia merasa nyaman mengambil keputusan.
b.      Mengusap dagu. Saat seseorang menempelkan tangan di dagu dan mulai mengusapnya secara perlahan, proses pengambilan keputusan sedang berlangsung. Mirip dengan bahasa tubuh memainkan kacamata, hanya saja dilakukan oleh orang yang tidak berkaca mata.
c.       Tangan di pinggang. Gerakan ini menunjukkan keagresifan dan kesiagaan seseorang terhadap lingkungannya.
d.      Memasukkan ibu jari ke saku depan. Gerak isyarat ini menunjukkan agrsivitas secara seksual jika terjadi pada dua orang atau lebih dari jenis kelamin yang berbeda. Jika sesama pria melakukan bahasa tubuh ini, ada dua kemungkinan, mereka mengalami kelainan atau akan terjadi perkelahian di antara mereka tak lama lagi.
5)      Gerakan Lain :
a.       Dada atau pinggul didekatkan: tertarik secara seksual.
b.      Kaki mengetuk lantai: ingin bicara atau bosan.


B.     Dibawah ini beberapa gerakan tubuh yang menunjukan emosi dari seseorang
1)      Bahasa tubuh orang tertarik:
a.       Meletakan tangan di dada. Gerakan ini menunjukkan sebuah penerimaan. Biasanya diiringi oleh bahasa lisan, seperti janji dan kekaguman.
b.      Mendekat. Jika seseorang tertarik, tanpa sadari dia akan mendekatkan dirinya pada orang yang menarik perhatiannya.
c.       Menunjuk dengan kaki. Gerak isyarat ini biasanya terjadi dalam posisi berdiri. Arah kaki dapat menunjukkan ketertarikan seseorang, entah secara seksual, entah dengan ide-ide yang sedang dibicarakan orang tersebut.
d.      Kombinasi tatapan dan perubahan pupil mata. Jika seseorang tertarik, tatapannya akan tertahan untuk waktu yang lebih lama dari biasanya.
e.       Merapikan rambut. Baik pria maupun wanita, jika bertemu dengan lawan jenis dan merasa tertarik, mereka pasti akan merapikan atau menyentuh bagian rambutnya, bahkan seorang botak.
f.       Mengentakkan Kepala. Gerakan ini biasa dilakukan wanita dan dibarengi dengan menyibakkan rambut ke belakang sehingga leher terlihat jelas.
g.      Merapikan baju. Bisa berupa merapikan lipatan kerah, lipatan tangan, menarik rok, menggosok sedikit bagian pundak, atau bagian busana lainnya.
2)      Bahasa tubuh orang yang menolak atau marah:
a.       Menyilang tangan di dada. Gerakan ini menunjukkan seseorang berada dalam kondisi tertutup (tidak nyaman) terhadap lingkungan sekitarnya. Saat sedang duduk, isyarat ini seringkali diperkuat dengan menyilangkan kaki atau tungkai.
b.      Kombinasi gerakan tangan dan tatapan. Bahasa tubuh seperti ini biasanya terjadi saat seseorang tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat dan ketidaksukaannya terhadap seseorang.
3)      Bahasa tubuh orang yang merasa berkuasa:
a.       Meletakan kaki di atas meja. Meskipun terbilang kurang sopan, mengangkat kaki menunjukkan penguasaan seseorang atas lingkungannya.
b.      Tangan dilipat ke belakang. Biasanya, gerakan isyarat ini dilakukan saat sedang berdiri atau berjalan.
c.       Menghembuskan rokok ke atas. Seorang perokok sering kali menunjukkan kekuasaannya dengan cara mengembuskan asap rokoknya ke atas sambil memonyongkan sedikit mulutnya.
4)      Bahasa tubuh orang sedih, kecewa atau stres:
a.       Menunduk dan tangannya mengusap kepala bagian belakang.
b.      Mengusap jidat. Gerakan ini biasanya didukung dengan raut wajah.
5)      Bahasa Keterbukaan
a.       Tatapan langsung banyak dengan lensa mata membesar.
b.      Tangan menangkup membentuk menara.
c.       Arah kaki kepada Anda.
d.      Postur tubuh terbuka.
6)      Bahasa Siap Menerima
a.       Kontak mata lebih 60 persen dan banyak senyum lepas.
b.      Tubuh atau kepala mencondong kepada Anda.
c.       Banyak anggukan dan wajah menghadap langsung ke Anda.
d.      Tangan terbuka di atas meja.
7)      Bahasa Curiga
a.       Postur tubuh tertutup
b.      Tangan berada di saku atau posisi menyilang.
c.       Tatapan melalui sudut mata (lirikan) berulang kali.
d.      Arah kaki menyerong.
8)      Bahasa Tidak Jujur
a.       Banyak menatap ke samping khususnya pada bagian kata atau kalimat bohong.
b.      Tangan sering menutup mulut atau hidung, atau meraba hidung atau telinga.
c.       Postur tidak nyaman.


C.     Dibawah ini gerakan / komunikasi non-verbal beserta beberapa contohnya

1)      Memandang Ke atas
Ketika Pangeran Charles akan mengucapkan sumpah janji pernikahannya kepada Putri Diana, dia melihat ke atas. Ini adalah ungkapan pencarian keselamatan – dia melihat ke langit untuk minta tolong. Apapunagama anda, jika anda memandang ke atas berarti anda mencari pertolongan dari Yang di Atas. Orang dengan rasa diri penting juga melakukannya, menunjukkan mereka membuat kontak dengan Yang Maha Kuasa.
Ungkapan perasaan anda: Melihat ke atas berarti  memohon bantuan, sedangkan menggaruk hidung berarti orang itu berbohong.

2)      Berkedip
Berkedip dengan cepat? Lalu pikiran Anda bekerja terus menerus. Ini adalah tanda-tanda seseorang sedang khawatir, gembira atau bahkan berbohong karena mereka di bawah tekanan dan berpikir sangat keras. Apapun alasannya, mulai dari  'Aku harus keluar dari sini' sampai  'Dia sangat menarik' atau 'Aku akan tertangkap basah'.

3)      Menggaruk Hidung
Lakukan ini dan anda mungkin sedang berbohong. Ketika anda berbohong, secara naluri anda ingin menutupi sumber kebohongan yaitu mulut Anda - jadi tidak ada yang  dapat melihat bahwa anda berbohong. Tapi menutup mulut anda akan terlihat sangat jelas, sehingga orang-orang menyamarkannya dengan menggaruk hidung mereka, sehingga tangan mereka memiliki alasan berada di sana dan seperti berusaha untuk menutup mulut mereka.

4)      Mengerucutkan Bibir
Orang pemarah sering mengerucutkan bibir mereka karena itu  mencegah mulut untuk mengatakan sesuatu yang akan dia sesali. Jika anda memiliki sesuatu yang disembunyikan, anda berusaha untuk menutup mulut anda dan  mencegah anda berbicara – Secara tidak sadar anda berpikir: "Tidak, lebih baik saya tidak mengatakan apa-apa.”

5)      Menggigit Bibir
Mulut adalah gerbang  terbesar yang bisa  menunjukkan kecemasan. Jika anda ingin tahu jika seseorang sedang tertekan atau gugup, lihatlah mulut mereka.
Menggigit bibir, baik bibir bawah atau sudut mulut dengan gigi atas, akan mencegah seseorang untuk berbicara, jadi cara ini sering digunakan oleh orang yang ingin menghentikan diri mereka untuk mengatakan sesuatu.
Bahasa isyarat: Menggigit bibir mengungkapkan kecemasan, sementara menggigit bibir dengan memiringkan kepala adalah cara menggoda.

6)      Memiringkan Kepala
Disebut “bahasa isyarat kepala” oleh psikolog, ini sering digunakan oleh seorang perempuan untuk menggoda dan terlihat lebih menarik.
Memiringkan kepala akan terefek pada tiga hal yang menarik bagi pria: membuat sang wanita kelihatan lebih pendek, meniru bayi yang meletakkan kepalanya di bahu ibunya; dan memperlihatkan jenjang leher. 
Leher adalah salah satu bagian yang paling rentan dari tubuh anda, memperlihatkannya kepada seseorang adalah cara untuk mengatakan secara tersirat: “aku percaya padamu”

7)      Memijat Telinga
Ketika seseorang khawatir, mereka menyentuh daun telinga mereka untuk memberikan kenyamanan bagi diri mereka sendiri. Telinga adalah organ yang penuh dengan urat saraf, sehingga akan menimbulkan sensasi yang menyenangkan untuk mengurangi kekhawatiran.

8)      Mengibas Rambut
Berusaha untuk mencari perhatian seseorang. Ini juga adalah cara untuk “kelihatan muda” yangsering digunakan oleh para perempuan tua untuk tampil lebih menarik. Ketika kita masih muda, rambut kita lebih fleksibel secara alami, tetapi seiring dengan waktu, mulai memudar. Mengibas rambut bagi wanita, adalah untuk memberikan kesan masih muda.
Baca tanda-tanda: Menyentuh daun telinga untuk menenangkan diri dan mengibas rambut untuk mencari perhatian

9)      Menaikkan Alis Mata
Melengkungkan alis dan melebarkan mata anda, akan terlihat menakutkan. Tapi menaikkan alis mata menunjukkan bahwa anda tertarik pada seseorang atau sesuatu.
Pangeran Charles dan Tony Blair menggunakan cara ini untuk mengatakan: "Saya bukan ancaman, saya terpesona pada anda dan saya tidak mencoba mendominasi." Ini adalah salah satu cara untuk membuat orang lebih santai.

10)  Mengerutkan Alis
Mengerutkan alis adalah isyarat dominasi yang sering digunakan terutama oleh laki-laki, yang menyatakan pada orang-orang: "Saya mungkin menghormati anda, tapi saya yang bertanggung jawab."



11)  Merenggangkan Kaki
Ketika anda sedang naikkereta, anda berdiri dengan kaki terpisah sehingga anda tidak kehilangan  keseimbangan. Dan itulah apa yang anda katakan ketika anda berdiri seperti ini di situasi lain: "Saya stabil."Anda memberitahu kepada orang-orang bahwa anda tidak akan mengubah pikiran anda.

12)  Memindahkan Berat Badan
Ketika anda ingin melarikan diri dari percakapan, anda memindahkan berat badan anda dari satu sisi ke sisi lainnya atau dari arah belakang ke depan.
Hal ini sering menyebabkan sedikit tarian dengan lawan bicara anda – anda memindahkan berat badan anda, mereka menangkap sinyal itu, sehingga mereka melihat pada tas tangan mereka. Anda membaca sinyal ini dan mengancingkan jas anda, mereka mengambil jas mereka. Anda berdua meninggalkan tempat itu. Pria juga kadang-kadang melakukan hal ini ketika mengobrol dengan seorang gadis cantik untuk memberikan kesan energik.
Arti yang benar: Posisi duduk pretzel, ke arah kiri, berarti seseorang sedang mencoba untuk membuat sendiri tak terlihat, sedangkan duduk melebar menunjukkan kesan dominan

13)  Posisi Pretzel
Lain kali ketika anda melihat seorang pelawak, yang sedang mencari dari antara penonton yang duduk dengan kaki disilangkan dan salah satu kaki di belakang betis. Hal ini menyatakan: "Ya, aku bahagia berada di sini, tapi aku ingin tidak terlihat." Anda mengambil ruang sesedikit mungkin, berharap agar anda tidak diperhatikan.

14)  Menyilangkan Kaki
Oh sayang,jika anda bersama dengan orang yang benar-benar membosankan berdiri dengan “posisi gunting”, anda sedang berada dalam malam panjang penuh kebosanan”.
Posisi tersebut menyatakan: "Saya tidak punya niat untuk pindah." Ini cara yang sangat baik untuk mengatakan apakah percakapan tersebut akan dilanjutkan atau tidak.

15)  Duduk Melebar
Jika Anda ingin memegang kendali, ambillah ruang sebanyak mungkin -- meletakkan kertas-kertas, merenggangkan lengan dan kaki anda sejauh mungkin dan menaruh kaki anda ke dalam ruang komunal. Itu setara dengan binatang yang berusaha untuk memperluas ruang mereka dalam rangka mengancam dan mendominasi.
Sinyal tangan: Membuka telapak tangan adalah sikap ramah (kiri), namun menyembunyikan tangan anda, berarti anda tidak ingin memberikan apa pun.




16)  Tangan Terbuka
Menampilkan telapak tangan anda adalah isyarat ramah yang menunjukkan bahwa anda memiliki niat damai. Ini menunjukkan penerimaan, niat baik dan bahwa anda terbuka untuk ide-ide baru.

17)  Arah Kaki
Saya pernah mengamati dalam perlombaan, anjing mana yang akan memenangkan Perlombaan Crufts sebelum diumumkan karena kaki juri telah menunjuk arahnya. Cara kaki anda menghadap menunjukkan apa yang anda pikirkan. Ikuti garis kaki seseorang dan ia akan menunjukkan apa yang paling mereka minati pada saat itu --  jika mengarah ke pintu, mereka ingin pergi.

18)  Menunjukkan Ruas Jari
Ini adalah kebalikan dari tangan terbuka - itu untuk melindungi diri sendiri dan sebenarnya menyatakan: "Hati-hati, Anda bisa mendapatkan bogem mentah.”

19)  Menyembunyikan Tangan Anda
Menyembunyikan tangan anda secara keseluruhan ketika anda memiliki suatu rahasia menyatakan bahwa anda tidak ingin mengungkapkan apapun.
Tony Blair suka meletakkan tangannya di saku, tapi meninggalkan ibu jari tetap terlihat – ini merupakan sikap setengah rahasia, dengan meletakkan ibu jari tetap terlihat, juga menyatakan tanda dominasi. (Erabaru/isw)

20)  Bertolak Pinggang
Bertolak pinggang ketika sedang berbicara, menunjukkan dirinya sedang terlalu percaya diri (over confidence) atau mungkin ia seorang yang berkarakter arogan/sombong. Tips : Bersikaplah simpatik, dengan mengganguk-angguk mengerti terhadap apa yang tengah ia bicaraka/terangkan, karena kalau Anda mendebat argumennya di saat seperti ini, mungkin justru suhu pembicaraan jadi ‘meninggi’.

21)  Melipat Tangan Di Depan Dada
Bersikap defensif terhadap lawan bicara dan tidak terbuka terhadap ide lawan bicaranya. Tips : Untuk mencairkan suasana, berbaliklah ingin mendegar pendapatnya dengan menanyaka, “Bagaimana Menurut Bapak tentang hal ini?” (formal) atau “Oh iya, terus rencana mo kemana nih kamu sekarang?” (informal).

22)  Pandangan Mata Ke Kanan Atas
Pandangan mata ke kanan atas bisa diartikan dia tengah mengingat-ingat fakta yang pernah terjadi. Tips : Anda dapat mencobanya dengan menanyakan lawan bicara Anda dengan pertanyaan seperti, “Tanggal berapa Anda lahir?” atau “(100 / 2 ) + 550 – 100 hasilnya berapa?”.

23)  Pandangan Mata Ke Kiri Atas
Pandangan mata ke kiri atas bisa diartikan dia tengah berimaginasi atau tengah mencari sesuatu yang bukan fakta. Hal ini bisa diartikan dia tengah memikirkan suatu ide namun bisa juga diartikan bahwa dia tengah berbohong. Tips : Anda bisa mencobanya dengan menanyakan kepada lawan bicara Anda dengan pertanyaan seperti, “Bagaimana kalau rumah saya direnovasi dengan gaya minimalis, cocok tidak?” atau “Kemarin kamu jalan sama siapa Yang, kok aku liat mobil kamu parkir di Cineplex 21?” (untuk mengetes kejujuran sang pacar).

24)  Duduk Tegak
Sikap ini menunjukan sikap yang terbuka dan tertarik tentang apa yang dikatakan lawan bicara. Tips : Lanjutkan topik pembicaraan Anda.

25)  Tangan Di Atas Meja
Kedua tangan saling memegang di atas meja, menunjukan bahwa dia menginginkan pembicaraan cepat usai. Tips : Segera sampaikan kesimpulan dari pembicaraan Anda dan segera mohon diri.

26)  Menghela Nafas
Menghela nafas di tengah berlangsungnya pembicaraan bisa diartikan bahwa dia bosan dengan materi pembicaraan. Tips : Anda harus segera mengakhiri atau mengganti topiknya.

27)  Beribacara Menyamping
Lawan bicara Anda ingin segeralepas dari Anda. Tips : Biarkan saja, lain waktu Anda masih punya waktu mengajaknya ngobrol.

28)  Berdehem sebelum Memulai Bicara
Lawan bicara membutuhkan waktu untuk memikirkan jawaban atau tengah mencari ide kalimat yang akan diutarakannya. Tips : Berikan waktu padanya dan dengarkan dengan seksama.

29)  Menggoyang-Goyang Kaki Dengan Cepat
Yang digoyangkan kadang pergelangan telapak kaki kadang pangkal paha, tergantung posisi duduknya. Hal ini menunjukan dia tengah grogi, tidak tenang mungkin juga tengah berbohong. Tips : Anda harus waspada terhadap kaliamat-kalimat/jawaban-jawaban yang disampaikannya.



30)  Berjabat Tangan Dengan Kencang Atau Lemah
Menjebat erat tangan lawan bicara (mungkin disertai tepukan punggung) ketika bertemu atau berpisah, menunjukan bahwa dia adalah orang yang ramah, terbuka dan mungkin menikmati pertemuan dengan Anda. Sebaliknya jabat tangan yang lemah, menunjukan lawan bicara tidak begitu menghargai Anda atau tidak menganggap pertemuan tersebut tidaklah penting. Tips : erat ataupun lemah jabat tangan lawan bicara Anda tetap harus Anda hargai. Setidaknya Anda sudah bisa membaca ‘suasana’.

31)  Berbicara dan Melihat Anda Dari Atas Ke Bawah
Melihat dari atas ke bawah atau sebaliknya berarti lawan bicara Anda tengah menilai Anda secara fisik, kepribadian dan ingin mencari tahu lebih jauh latar belakang Anda. Tips : Tetap berkonsentrasi terhadap kalimat-kalimat Anda sesuai topik pembicaraan dan jangan terpancing untuk mengeluarkan seluruh potensi kepribadian dan latar belakang Anda di depannya, yang tidak ia tanyakan.

32)  Berbicara dan Menatap Tajam Anda
Lawan bicara tengah mencoba membaca balik bahasa tubuh Anda, terutama kejujuran jawaban dankalimat-kalimat Anda. Tips : Tetap tenang dan hati-hati. Sampikan kalimat-kalimat yang singkat dan padat. Anda juga bisa mencairkan ‘kewaspadaanya’ terhadap Anda dengan sedikit melemparkan jokes.

D.    Bahasa Tubuh Ketika Seseorang Sedang Berbohong

1)      Pembohong cenderung menggerakkan kaki dan tangan secara canggung dan berlebihan; ini karena secara tidak sadar ia berusaha menyamarkan kata-katanya dan mengalihkan perhatian pendengarnya dengan gerakan-gerakan itu. Gerakan ini bisa terbaca, misalnya, dari tangan yang menyentuh arloji, gelang atau pergelangan tangan tanpa tujuan yang jelas.

2)      Orang yang sedang berbohong tak akan mampu menatap mata lawan bicaranya dengan durasi normal. Ia cuma bisa menatap sekilas atau menatap lawan bicara lebih lama dari normalnya, kalau ia kebetulan tahu bahwa pembohong tak bisa menatap lawan bicara dengan tatapan normal. Pembohong juga berkedip lebih banyak daripada mereka yang tidak sedang berbohong. Mata pembohong juga tidak bisa fokus; mata itu bergerak ke sana kemari karena menghindar dipandang balik oleh lawan bicaranya.

3)      Pembohong banyak menyentuh wajah , mulut dan hidung. Ini yang sulit dikendalikan oleh pembohong bahkan ketika mereka sadar mereka sedang berbohong. Ini merupakan respons refleks psikologis atas ketidakjujuran mereka, yang merupakan cara simbolis untuk mencegahnya berbohong. Perilaku ini lebih sering terlihat pada mereka yang merasa tak nyaman kalau harus berbohong.

4)      Pembohong melihat ke arah bawah sewaktu berbohong, seolah mereka sedang berpikir apa yang harus diucapkan berikutnya; bedakan dengan orang yang bisa memandang tegak karena mereka tidak perlu mengarang-ngarang cerita. Pembohong melihat ke bawah karena di situ ada ’kanvas kosong’ untuk menjalin cerita yang bisa meyakinkan pendengarnya.

5)      Pembohong sebenarnya sulit menjaga konsistensi detail cerita atau kata-katanya. Orang yang sengaja berbohong harus bekerja keras mengingat semua cerita jaga-jaga kalau diperlukan di lain waktu. Non-pembohong tidak sulit mengulang cerita dengan detail yang konsisten; non pembohong memiliki gambaran mental untuk disampaikan kembali, sedangkan pembohong tidak terbekali dengan gambaran mental ini dan ia bakal kedodoran dengan detail-detal yang diingat pendengarnya, sementara ia sendiri tidak akan ingat.

6)      Orang yang berbohong cenderung defensif atau menggerakkan tubuh secara defensif ketika dicecar soal bohongnya, bahkan ketika mereka tidak sedang dituduh berbohong. Ketika pendengar bertanya lagi tentang detail cerita, pembohong bisa langsung membela diri, marah dan sewot, dan balik bertanya, “Kamu ini ngomong apaan, sih?”. Ini bentuk mekanisme bertahan mereka.

7)      Pembohong sering menyentuh kerah baju mereka. Ini karena ketika orang berbohong, ada sensasi menggelitik di jaringan wajah dan leher yang menimbulkan perasaan tak nyaman di sekitar wajah dan leher.

8)      Pembohong menyelingi kata-katanya dengan batuk buatan, untuk mengalihkan perhatian pendengarnya.

9)      Perhatikan tenggorokkannya, seseorang akan berusaha mengurangi ketenganganya ketika berbohong dengan membasahi tenggorokannya dengan menelan air liurnya.

10)  Perhatikan tangannya, gerakkan tangan orang yang berbohong kadang tidak jelas. kadang ia menyentuh hidung, dahi, atau belakang telinga.

11)  Ketika kita percaya pada seseorang yang berbohong, maka kondisinya akan berubah drastis, dia sudah mulai tenang karena kita percaya kebohongannya.

12)  Jika kita yakin bahwa seseorang tersebut berbohong, coba kita diam sejenak. coba amati betapa tidak nyamannya keadaan seseorang yang sedang berbohong.

13)  Seseorang kadang menggunakan lelucon atau kata-kata kasar untuk menyimpang dari pembicaraan.

14)  Ketika tertawa, tertawa yang tulus tidak hanya dibibir, tetapi mata juga menunjukkan apakah dia tertawa dengan tulus atau tidak. dibawa kelopak mata akan terbentuk kantung jika seseorang sedang tertawa dengan tulus.

15)  Bisa juga seseorang tersebut tidak berbohong tetapi sedang menyembunyikan sesuatu dari kita
a.       Menutup mulutnya ketika berbicara
b.      Menggosok sisi hidung
c.       Bersandar agak jauh dari kita
d.      Sedikit mengangkat bahu
e.       Nada suara meninggi


E.     Bahasa Tubuh Ketika Seseorang Merasa Tertarik Pada Lawan Jenis
1)      Perempuan
a.       Beberapa hal yang menunjukkan seorang perempuan tertarik kepada pria:
a)      Ia akan memberi sinyal “mengundang” dengan tatapan sensualnya.
b)      Ia pun akan melakukan gerakan dengan ujung jarinya. Misalnya, memutar bagian lingkar gelas, memutar pulpen, memijat pundak atau lehernya sendiri, atau menyentuh atau memijat pelan lengan si pria.
c)      Bermain dengan rambutnya adalah salah satu senjata yang dilakukan oleh perempuan untuk memberi tahu bahwa ia menyukai seorang pria. Banyak cara untuk bermain dengan rambutnya, bisa dengan mengibaskan, menyelipkan di balik kuping, bermain dengan poni, atau melilitkan rambut pada salah satu jemarinya.
d)     Bibir pun tak hanya berfungsi untuk berbicara. Bermain dengan bibirnya juga menandakan ia tertarik pada pria. Baik dengan mengaplikasikan lipstik berwarna merah maupun memakan saus cokelat dengan perlahan juga bisa menjadi cara untuknya menunjukkan ketertarikannya.
e)      Menyilangkan dan mengganti silang kaki secara berulang juga merupakan salah satu cara penarik perhatian.
f)       Senyum manis yang dilemparkan kepada satu orang secara terus-menerus juga merupakan tanda yang sudah sangat jelas bahwa ia tertarik.

2)      Laki-laki
Pria senang mengejar wanita. Salah satu bagian dari pengejaran yang dilakukan pria adalah dengan mengirimkan pesan bahwa ia tertarik pada seorang perempuan. Salah satu contohnya, ia akan berusaha membuat dirinya terlihat tegap dan tinggi. Sebagian pria juga akan menaruh tangannya di pinggang. Ia pun juga bisa saja memainkan rambutnya, merapikan kancing lengan kemejanya, merapikan baju, dan melirik ke cermin untuk memastikan tidak ada sesuatu yang memalukan di wajahnya. Lainnya:


a.       Ia akan sedikit menaikkan alis matanya saat menatap si perempuan.
b.      Ia pun tak segan melakukan ketidaksengajaan, seperti menabrakkan diri.
c.       Saat di luar waktu kerja, pria senang bersantai. Namun, bila ia merapikan
dasi dan bajunya saat melihat seorang wanita, berarti ia tertarik.
d.      Cara lainnya adalah dengan mendekatkan diri kepada si perempuan dan memasang muka serius saat mendengarkan si perempuan.
e.       Senyum yang malu-malu juga mengisyaratkan ketertarikannya.
f.       Ia akan mencari cara untuk menyentuh lengan, punggung, lutut, pundak, atau bagian tubuh lain yang tidak mengisyaratkan tempat terlarang. Jika dilakukan dengan benar dan diterima baik, si perempuan bisa merasa tersanjung karenanya.Ia pun akan memastikan bahwa bahasa tubuhnya terbuka. Artinya, ia tak akan melipat tangannya atau memutarbalikkan tubuhnya seperti tak tertarik. Ia justru akan melakukan sebaliknya.

































RESENSI DARI INTERNET
































Metode Observasi


Metode Observasi
Observasi adalah kegiatan mengenali tingkahlaku individu, yang biasanya akan diakhiri dengan mencatat hal-hal yang di pandang penting sebagai penunjang informasi mengenai klien. Informasi yang diperoleh dari observasi adalah observasi situasi sekarang (kini).
Pengertian observasi/pengamatan menurut para tokoh
Menurut Kartono (1980: 142) pengertian observasi diberi batasan sebagai berikut: “studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan”. Selanjutnya dikemukakan tujuan observasi adalah: “mengerti ciri-ciri dan luasnya signifikansi dari inter relasinya elemen-elemen tingkah laku manusia pada fenomena sosial serba kompleks dalam pola-pola kulturil tertentu”.
Observasi dapat menjadi teknik pengumpulan data secara ilmiah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Diabdikan pada pola dan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan.
2.      Direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis, dan tidak secara kebetulan (accidental) saja.
3.  Dicatat secara sistematis dan dikaitkan dengan proposisi-proposisi yang lebih umum, dan tidak karena didorong oleh impuls dan rasa ingin tahu belaka.
4.      Validitas, reliabilitas dan ketelitiannya dicek dan dikontrol seperti pada data ilmiah lainnya (Jehoda, M. dkk, 1959 dalam Kartono 1980: 142).
Catatan penulis: Untuk nomor 4) istilah validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif tidak biasa digunakan, istilah yang biasa digunakan untuk menggantikan kedua istilah tersebut adalah kredibilitas.
Poerwandari tidak memberikan batasan tentang observasi tetapi memberikan penjelasan tentang observasi sebagai berikut: “Observasi barangkali menjadi metode yang paling dasar dan paling tua di bidang psikologi, karena dengan cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati. Semua bentuk penelitian psikologis, baik itu kualitatif maupun kuantitatif mengandung aspek observasi di dalamnya. Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian psikologis, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah (Banister dkk, 1994 dalam Poerwandari 1998: 62).
Catatan penulis: Observasi yang dilakukan dalam laboratorium dalam konteks eksperimental itu adalah observasi dalam rangka penelitian kuantitatif. Observasi dalam rangka penelitian kualitatif harus dalam konteks alamiah (naturalistik).
Patton (1990: 201 dalam Poerwandari, 1998: 63) menegaskan observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.
Pokok persoalan observasi
Menurut Moleong tidak memberikan batasan tentang observasi, tetapi menguraikan beberapa pokok persoalan dalam membahas observasi, diantaranya: a) alasan pemanfaatan pengamatan, b) macam-macam pengamatan dan derajat peranan pengamat (Moleong, 2001: 125).
a) .Manfaat Pengamatan
Menurut Guba dan Lincoln (1981: 191 – 193 dalam Moleong 2001: 125-126) alasan-alasan pengamatan (observasi) dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam penelitian kualitatif, intinya karena:
1).Pengamatan merupakan pengalaman langsung, dan pengalaman langsung dinilai merupakan alat yang ampuh untuk memperoleh kebenaran. Apabila informasi yang diperoleh kurang meyakinkan, maka peneliti dapat melakukan pengamatan sendiri secara langsung untuk mengecek kebenaran informasi tersebut.
2).Dengan pengamatan dimungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang sebenarnya.
3).Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa yang berkaitan dengan pengetahuan yang relevan maupun pengetahuan yang diperoleh dari data.
4).Sering terjadi keragu-raguan pada peneliti terhadap informasi yang diperoleh yang dikarenakan kekhawatiran adanya bias atau penyimpangan. Bias atau penyimpangan dimungkinkan karena responden kurang mengingat peristiwa yang terjadi atau adanya jarak psikologis antara peneliti dengan yang diwawancarai. Jalan yang terbaik untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut, biasanya peneliti memanfaatkan pengamatan.
5).Pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Situasi yang rumit mungkin terjadi jika peneliti ingin memperhatikan beberapa tingkah laku sekaligus. Jadi pengamatan dapat menjadi alat yang ampuh untuk situasi-situasi yang rumit dan untuk perilaku yang kompleks.
6).Dalam kasus-kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan, pengamatan menjadi alat yang sangat bermanfaat. Misalkan seseorang mengamati perilaku bayi yang belum bisa berbicara atau mengamati orang-orang luar biasa, dan sebagainya.
Perlu ditekankan disini pengamatan dimaksudkan agar memungkinkan pengamat melihat dunia sebagaimana yang dilihat oleh subjek yang diteliti, menangkap makna fenomena dan budaya dari pemahaman subjek. Pengamatan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subjek, bukan apa yang dirasakan dan dihayati oleh si peneliti. Jadi interpretasi peneliti harus berdasarkan interpretasi subjek yang diteliti.

b). Macam Pengamat dan Derajat Pengamat
Menurut Moleong (2001: 126-127) pengamatan dapat dibedakan menjadi: a) pengamatan berperan serta, b) pengamatan tidak berperan serta. Pengamatan juga dapat diklasifikasikan menjadi: a) pengamatan terbuka, apabila keberadaan pengamat diketahui oleh subjek yang diteliti, dan subjek memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang terjadi dan subjek menyadari adanya orang yang mengamati apa yang subjek kerjakan, b) pengamatan tertutup apabila pengamat melakukan pengamatan tanpa diketahui oleh subjek yang diamati. Pengamatan juga dapat diklasifikasikan menjadi: a) pengamatan dengan latar alamiah atau pengamatan tidak terstruktur dan b) pengamatan buatan atau pengamatan terstruktur. Pengamatan terstruktur ini disebut eksperimen biasa digunakan dalam penelitian kuantitatif. Sedang pengamatan alamiah atau pengamatan tidak terstruktur inilah yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif.
Selanjutnya Bunford Junker (dalam Moleong, 2001: 126-127) membagi peran peneliti sebagai pengamat menjadi 4 (empat) jenis, yaitu:
1).Berperan serta secara lengkap (the complete participant). Pengamat dalam hal ini menjadi anggota penuh dari suatu kelompok yang diamati, artinya peneliti bergabung secara penuh atau menjadi anggota secara penuh dalam kelompok yang diamati sendiri oleh peneliti. Dengan demikian peneliti dapat memperoleh informasi apa saja yang dibutuhkannya, termasuk yang rahasia.
2).Pemeran serta sebagai pengamat (the participant as observer). Peneliti tidak sepenuhnya menjadi anggota kelompok yang diamati (misalnya anggota kehormatan), tetapi masih dapat melakukan fungsi pengamatan. Hal-hal rahasia masih dapat diketahui.
3).Pengamat sebagai pemeran serta (the observer as participant). Peranan pengamat secara terbuka diketahui oleh umum, karena segala macam informasi termasuk yang rahasia dapat dengan mudah diperoleh.
4).Pengamat penuh (the complete observer). Biasanya hal ini terjadi pada pengamatan suatu eksperimen dilaboratorium yang menggunakan kaca sepihak. Peneliti dengan bebas mengamati secara jelas subjeknya dari belakang kaca, sedang subjeknya sama sekali tidak mengetahui apakah mereka sedang diamati atau tidak.
Flick (2002: 135) menjelaskan tentang observasi sebagai berikut: disamping kemampuan berbicara dan mendengarkan sebagaimana digunakan dalam wawancara-wawancara, observasi merupakan keterampilan harian lain sebagai secara metodelogis disistematisir dan diterapkan dalam penelitian kualitatif. Tidak hanya persepsi visual tetapi juga persepsi berdasarkan pendengaran, perasaan dan penciuman yang diintegrasikan. (“Besides the competencies of speaking and listening which are used in interviews, observing is another everyday skill which is methodologically systematized and applied in qualitative research. Not only visual perceptions but also those based on hearing, feeling and smelling are integrated (Adler and Adler 1998)”).

Dengan menyetujui pendapat Friedrichs (1973: 272-273), Flick (2002: 135) menyatakan prosedur observasi secara umum diklasifikasikan menjadi 5 (lima) dimensi, yaitu:
a).Observasi tertutup versus observasi terbuka: seberapa jauh observasi diberitahukan kepada siapa yang diobservasi. (“Covert versus overt observation: how far is the observation revealed to those who are observed”).
b).Observasi tidak terlibat versus observasi terlibat: seberapa jauh pengamat menjadi bagian yang aktif dari lapangan yang diamati. (“Non-participant versus participant observation: how far does the observer become an active part of the observed field”).
c).Observasi sistematis lawan observasi yang tidak sistematis: adalah suatu observasi yang lebih atau kurang terstandarisasikan dalam pola pelaksanaannya atau observasi yang lebih fleksibel dan tanggap terhadap proses penelitian sendiri. (“Systematic versus unsystematic observation: is a more or less standarized observation scheme applied or does observation remain rather flexible and responsive to the processes themselves”).
d).Observasi secara alamiah versus situasi-situasi buatan: apakah observasi dilakukan dalam lapangan yang diminati atau apakah observasi dilakukan terhadap interaksi yang mengarah ke suatu tempat yang khusus (misalnya suatu laboratorium) yang memungkinkan observasi yang lebih baik. (“Observation in natural versus artificial situations: are observation done in the field of interest or are interactions ’moved’ to a special place (eq. a laboratory) to give a better observability”).
e).Observasi diri versus mengobservasi orang-orang lain: kebanyakan orang lain diobservasi, maka berapa banyak niat/atensi peneliti melakukan refleksi dalam observasi diri sendiri untuk dijadikan dasar selanjutnya pada waktu melakukan penafsiran atas apa yang diobservasi. (“Self-observation versus observing others: mostly other people are observed, so how much attention is paid to the researcher’s reflexive self-observation for futher grounding the interpretation of the observed”).

Mengenai tahap-tahap observasi, penulis seperti Adler dan Adler (1998), Denzin (1989 b dan Spradley (1980) (dalam Flick, 2002: 136) menyatakan bahwa observasi memiliki 7 (tujuh) tahap, yaitu:
a).Seleksi suatu latar (setting) yaitu dimana dan kapan proses-proses dan individu-individu yang menarik itu dapat diobservasi (“The selection of a setting, i.e. where and when the interesting processes and persons can be observed”).
b).Berikan definisi tentang apa yang dapat didokumentasikan dalam observasi itu dan dalam setiap kasus. (“The definition of what is to be documented in the observation and in every case”).
c).Latihan untuk pengamat supaya ada standarisasi misalnya apa yang dijadikan fokus-fokus penelitian. (“The training of the observers in order to standarized such focuses”).
d).Observasi deskriptif yang memberikan suatu pemaparan umum mengenai lapangan. (“Descriptive observations which provide an initial general presentation of the field”).
e).Observasi terfokus yang semakin terkonsentrasi pada aspek-aspek yang relevan dengan pertanyaan penelitian. (“Focused observations which concentrate more and more on aspects that are relevant to the research questions”).
f).Observasi selektif yang dimaksudkan untuk secara sengaja menangkap hanya aspek-aspek pokok. (“Selective observations which are intended to purposively grasp only central aspects”).
g).Akhir dari observasi apabila kepenuhan teori telah tercapai, yaitu apabila observasi lebih lanjut tidak memberikan pengetahuan lanjutan. (“The end of the observations, when theoretical saturation has been reached (Glaser and Strauss, 1967), i.e. futher observations do not provide any futher knowledge”).

Kerlinger (1986, terjemahan Simatupang 1990: 857) intinya menyatakan bahwa manusia melakukan pengamatan sehari-hari terhadap orang lain, lingkungan sekeliling dan lain-lain. Tetapi pengamatan seperti itu jelas tidak memberikan data yang dapat dipergunakan untuk penelitian ilmiah. Oleh peneliti-peneliti kuantitatif agar data hasil pengamatan dapat dimanfaatkan dalam penelitian ilmiah perlu diterapkan prosedur pengukuran yaitu setiap perilaku diberi skor menurut aturan tertentu, sehingga berdasarkan skor-skor tersebut dapat disusun kesimpulan. Namun menurut Kerlinger hal tersebut ternyata masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan. Para peneliti kuantitatif menyatakan bahwa perilaku tersebut harus dikontrol secara ketat dan cermat agar perilaku tersebut dapat dikenakan prosedur pengukuran, dengan demikian data tersebut bermanfaat untuk ilmu pengetahuan ilmiah. Peneliti-peneliti kualitatif menyatakan bahwa pengamatan harus alamiah (naturalistik): pengamat harus larut dalam situasi realistik dan alami yang sedang berlangsung, dan harus mengamati perilaku sebagai yang muncul dalam wujud yang sebenarnya. Walaupun hal ini dalam pelaksanaannya sangat sulit dan rumit.

Sedang Bachtiar (dalam Koentjoroningrat, 1977: 139) intinya menyatakan bahwa dalam pengetahuan ilmiah mengenai segala sesuatu yang diwujudkan oleh alam semesta, pengamatan merupakan teknik yang pertama-tama digunakan dalam penelitian ilmiah. Selanjutnya dinyatakan berbeda dengan pengamatan yang dilakukan sehari-hari, pengamatan sebagai cara penelitian menuntut dipenuhinya syarat-syarat tertentu yang merupakan jaminan bahwa hasil pengamatan memang sesuai dengan kenyataan yang menjadi sasaran penelitian. Syarat-syarat tersebut adalah peneliti harus berusaha membandingkan dengan hasil pengamatan orang lain dalam masalah yang sama dan dalam keadaan yang sama, apabila ternyata mendapatkan hasil yang tidak sama, maka harus diperiksa kembali dimana kesalahannya. Untuk menguji kebenaran suatu pengamatan, peneliti dapat mengulang pengamatannya kemudian membandingkan dengan hasil pengamatan pertama. Walaupun hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena ada peristiwa yang hanya sekali terjadi, sehingga tidak dapat diamati lagi. Catatan penulis: untuk membandingkan hasil pengamatan dari seorang peneliti dengan peneliti lain adalah sangat sulit karena belum tentu mendapatkan peneliti dalam masalah yang sama dengan subjek yang sama. Oleh karena itu peneliti wajib membandingkan wajib penelitiannya dengan hasil pengamatan significant others yaitu individu yang dinilai berwibawa, dipercaya, disegani oleh subjek yang diteliti sehingga persepsinya terhadap subjek yang diteliti dianggap benar atau sesuai dengan kenyataannya.

Menurut Suparlan (1997: 103) metoda pengamatan digunakan untuk memperoleh informasi mengenai gejala-gejala yang dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati. Hasil pengamatan biasanya didiskusikan oleh si peneliti dengan warga masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui makna yang terdapat dibalik gejala-gejala tersebut. Selanjutnya menurut Suparlan (1994: 62) intinya terdapat anggapan sementara pihak bahwa pengamatan dinilai bukan suatu metoda penelitian yang ilmiah karena sederhana, tidak rumit teknik-tekniknya dan tidak susah memahami dan menggunakannya. Padahal apabila digunakan sesuai persyaratannya akan memperoleh data yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan. Suparlan selanjutnya mengemukakan bahwa dalam penelitian ilmiah yang menggunakan metoda pengamatan, si peneliti hendaknya memperhatikan 8 (delapan) hal sebagai berikut:
a).Ruang atau tempat: setiap gejala (benda, peristiwa, orang, hewan) selalu berada dalam ruang atau tempat tertentu. Bahkan keseluruhannya dari benda atau gejala yang ada dalam ruang yang menciptakan suatu suasana tertentu patut diperhatikan oleh si peneliti, sepanjang hal itu mempunyai pengaruh gejala-gejala yang diamatinya.
b).Pelaku: pengamatan terhadap pelaku mencakup ciri-ciri tertentu yang dengan ciri-ciri tersebut sistem kategorisasi yang berpengaruh terhadap struktur interaksi dapat terungkapkan.
c).Kegiatan: dalam ruang atau tempat tersebut para pelaku tidak hanya berdiam diri saja tetapi melakukan kegiatan-kegiatan, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan, yang dapat mewujudkan adanya serangkaian interaksi di antara sesama mereka.
d).Benda-benda atau alat-alat: semua benda-benda atau alat yang berada dalam ruang atau tempat yang digunakan oleh para pelaku dalam melakukan kegiatan-kegiatannya atau ada kaitannya dengan kegiatan-kegiatannya haruslah diperhatikan dan dicatat oleh si peneliti.
e).Waktu: setiap kegiatan selalu berada dalam suatu tahap-tahap waktu yang berkesinambungan. Seorang peneliti harus memperhatikan waktu dan urut-urutan kesinambungan dari kegiatan, atau hanya memperhatikan kegiatan tersebut dalam satu jangka waktu tertentu saja dan tidak secara keseluruhan.
f).Peristiwa: dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku, bisa terjadi sesuatu peristiwa diluar kegiatan-kegiatan yang nampaknya rutin dan teratur itu atau juga terjadi peristiwa-peristiwa yang sebenarnya penting tetapi dianggap biasa oleh para pelakunya. Seorang peneliti yang baik harus tajam pengamatannya dan tidak lupa untuk mencatatnya.
g).Tujuan: dalam kegiatan-kegiatan yang diamati bisa juga terlihat tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh para pelakunya sebagaimana terwujud dalam bentuk tindakan-tindakan dan ekspresi muka dan gerak tubuh atau juga dalam bentuk ucapan-ucapan dan ungkapan-ungkapan bahasa.
h).Perasaan: pelaku-pelaku juga dalam kegiatan dan interaksi dengan sesama para pelaku dapat terlihat dalam mengungkapkan perasaan dan emosi-emosi mereka dalam bentuk tindakan, ucapan, ekspresi muka dan gerakan tubuh. Hal-hal semacam ini juga harus diperhatikan oleh si peneliti.

Dari berbagai pendapat beberapa tokoh tentang pengamatan (observasi) maka dapat disimpulkan bahwa pengamatan (observasi) dalam konteks penelitian ilmiah adalah studi yang disengaja dan dilakukan secara sistematis, terencana, terarah pada suatu tujuan dengan mengamati dan mencatat fenomena atau perilaku satu atau sekelompok orang dalam konteks kehidupan sehari-hari, dan memperhatikan syarat-syarat penelitian ilmiah. Dengan demikian hasil pengamatan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Agar hasil pengamatan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya maka hasil pengamatannya hendaknya dibandingkan dengan hasil pengamatan peneliti lain tentang orang atau fenomena yang sama dan dalam situasi yang sama pula. Dapat juga dilakukan dengan mengulangi pengamatannya atau melengkapi dengan menggunakan teknik lain misalnya wawancara dan lain-lain. Atau dapat pula dilakukan dengan membandingkan dengan hasil pengamatan dari significant others. Jelaslah bahwa prinsip triangulasi dalam penelitian kualitatif harus ditegakkan.
Pendekatan yang sistematis dalam observasi dikelompokkan pada berdasarkan pertanyaan ini :
1.      Di mana observasi di lakukan ?
2.      Apa yang diobservasi ?
3.      Bagaimana observasi di lakukan ?
4.      Bilamana observasi dilakukan ?
Situasi observasi digolongkan menjadi tiga macam situasi atau setting, yakni :
1.     Observasi medan atau alamiah ( field setting ), yakni observasi di lapangan atau kancah atau di tempat yang sesungguhnya. Misalnya,
Contoh : observasi anak di rumahnya, di sekolahnya, atau di tempat bermain anak-anak, observasi klien di rumah sakit atau klinik.
2.      Observasi simulative ( simulated setting ), yakni observasi dengan simulasi situasinya. Artinya situasi observasi bila individu mendapat suatu simulasi (tiruan) atau rangsangan untuk memperoleh tingkah laku tertentu
Contoh : situasi kerja atau situasi tes ( tidak seluruhnya di kendalikan ).
3.   Observasi laboratories (laboratory setting), ialah observasi dengan situasi laboratrium, sehingga situasinya dapat dikendalikan sepenuhnya oleh observer.
Jenis observasi menurut pengamatan dari suatu perilaku
1.      Observasi sampel peristiwa ( even – sampling ), yakni hanya mengamati beberapa sampel tingkah laku pada suatu saat tertentu.
Contohnya : observasi tingkah laku kerjasama atau agresi pada waktu anak sedang bermain bersama dengan teman-temannya di rumah atau di sekolah.
Flanagan (1954) membuat prosedur “ critical technique “ dihubungkan dengan “ event sampling “ dalam teknik (prosedur) ini observer mencatat segala tingkah laku yang ada – yang baik dan yang buruk dalam suatu metode tertentu.
Contohnya : seorang pengawas mencatat tingkah laku spesifik dan karakteristik kerja tertentu yang menghasilkan hasil kerja yang efektif dan tidak efektif.
2.      Observasi sampel waktu ( time sampling ), yakni mengamati dan mencatat apa saja yang dilakukan individu dalam waktu tertentu.
Contohnya : dalam suatu tim bermain basket, seorang observer mengamati seorang pemain selama 10 menit dan mencatat apa saja yang dilakukan pemain yang diamatinya tadi.


Jenis observasi menurut posisi observer dibedakan menjadi dua macam.
1.  Observasi non-partisipan, di sini posisi observer sebagai penonton, semacam ada di luar yang diamati. Observer tidak ikut serta dalam kegiatan individu yang diobservasi. Observasi benar-benar berfungsi sebagai penonton, pengamat dan mencatat tingkah laku yang di observasi.
2.   Observasi partisipan, di sini posisi observer turut serta dalam kegiatan individu yang di obsrvasi. Cara ini untuk memperoleh tingkah laku individu yang alamiah atau wajar, tidak dibuat-buat, tidak dilantasi oleh rasa curiga atau perasaan sedang diamati.
Contohnya : mengobservasi permainan anak-anak, maka observer turut bermain dengan anak-anak tadi.
Kelemahan di observasi partisipan adalah, jika observer diketahui sebagai peneliti, maka tingkah laku individu dapat berubah,anak-anak dapat menjadi curiga kepada observernya.

Dibawah ini kolom mengenai Observasi partisipan dan non-partisipan
Observasi non-partisipan

Observasi partisipan


• obsever tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh observe. Observer berlaku sebagai penonton

•Kelemahan: perilaku observe tidak wajar bila merasa dirinya diamati. Karenanya observer harus mengatur agar situasinya tidak formal, pencacatan tidak menyolok.

•Metode ini sebagai pelengkap metode lain.


• metode ini untuk mengatasi kelemahan metode obs. Non partisipan

•Observer ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan observer

•Dengan partisipasi observer, maka observe tidak merasa kalau dirinya sedang dinilai, sehingga tingkah lakunya wajar

•Observer harus memiliki kemampuan teknis dasar-dasar teori yang melatar belakangi penelitiannya



Jenis observasi dilihat dari segi pencatatan hasil
1.      Observasi dengan pencatatan langsung ( immediate recording ), artinya segera setalah observasi dilakukan atau ketika pengamatan sedang berlangsung, observasi membuat catatan-catatan yang diperlukan. Hanya, jika pencatatan ini diketahui oleh individu yang diamati dapat mempengaruhi tingkah laku selanjutnya.
2.      Observasi dengan pencatatan retrospektif (retrospective recording), yaitu pencatatan dilakukan setelah observasi selesei. Tetapi perlu di ingat, cara ini akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lupa dari observer.
Data observasi dapat diperlukan sebagai data kualitatif, yaitu berupa catatan-catatan verbal non-angka. Data yang berupa angka-angka disebut data kualitatif, yakni yang dihasilkan oleh skala observasi, misalnya Impatient Multidimensional Psychiatric Scale dari Lorr (1962).
Dengan skala observasi dapat dicatat bermacam-macam tingkah laku pasien (dalam klinik), misalnya apakah mental pasien Nampak enak, kaku, rawan, atau cara bicaranya lambat gagap, cepat dan sebagainya. Beberapa contoh skala observasi adalah sebagai berikut.

Sangat
benci
 

Sangat
akrab
 




Skala Angka :
_ _ _ _ _  1. Sangat membenci semua orang
_ _ _ _ _  2. Membenci semua orang
_ _ _ _ _  3. Sikap bermusuhan
_ _ _ _ _  4. Kadang-kadang bersikap social
_ _    _ _  5. Ramah tamah
_ _ _ _ _  6. Bersahabat
_ _ _ _ _  7.Sangat bersahabat

Skala Ajektif :
Senang berpertualang              _ _ _
Agresif                                    _ _ _
Ramah tamah                          _ _ _
Dapat dipercaya                      _ _ _
Pemberang                              _ _ _
Sukar bergaul                          _    _
Dapat dipercaya                      _ _ _
Bersahabat                              _ _ _
Dingin/kaku                            _ _ _
Perusuh                                   _ _ _
Pembohong                             _ _ _
Kikir                                        _ _ _
Dermawan                               _ _ _
Keras kepala                            _ _ _
Pemalas                                   _ _ _
Tekun                                      _ _ _
Penurut                                    _ _ _
Dan sebagainya                       _ _ _

c). Beberapa Kelemahan Metode Observasi

1.      Halo efek pengaruh kesan pertama atau kesan luarnya saja
2.      Hawthorn Effect, adalah suatu tendensi tingkah laku akan di atur menjadi nampak berbeda dari kondisi yang alamiah dan nampak menjadi lebih baik (diriset di Western Electric Hawthorn oleh Roethlisberger & Dickson, 1939).
3.      Refleksi observer, yakni struktur kepribadian observer turut bepengaruh dan bermain dalam hasil pengamatannya tehadap objek yang diobservasi.

d).Iri-ciri Observasi
1).Persyaratan lain disamping diterapkannya prinsip triangulasi, maka agar hasil observasi dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya perlu adanya latihan untuk melakukan observasi, dan telah dimilikinya secara mantap pengetahuan teoritis atau konseptual dalam bidang atau masalah yang diobservasi oleh si peneliti. Atau dengan kata lain peneliti telah memiliki kepekaan teoritis (theoretical sensitivity).
2).Pengamatan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam penelitian kualitatif karena mempunyai keunggulan sebagai berikut:
a).Pengamatan yang dilakukan sendiri oleh si peneliti dapat diperoleh kebenaran yang meyakinkan, karena si peneliti dapat secara langsung mengecek kebenaran informasi.
b).Pengamatan memungkinkan si peneliti mampu memahami situasi yang rumit yaitu jika si peneliti ingin memperhatikan beberapa tingkah laku sekaligus atau tingkah laku yang kompleks.
c).Dengan pengamatan dimungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kegiatan sebagaimana yang sebenarnya.
3).Dalam kasus-kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan, pengamatan menjadi alat yang sangat bermanfaat, misalnya mengamati bayi yang belum dapat berbicara, atau mengamati orang yang menderita cacat; tuna rungu/tuna wicara, tuna netra, dan lain-lain.
Perlu mendapatkan perhatian bagi peneliti muda (mahasiswa S-1 yang sedang menyusun Skripsi dengan pendekatan kualitatif) tujuan pengamatan adalah menangkap makna fenomena sebagaimana pemahaman subjek yang diteliti terhadap fenomena tersebut. Merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subjek yang diteliti, bukan apa yang yang dirasakan dan dihayati oleh si peneliti.
4).Menggaris bawahi pendapat Poerwandari (1998: 62) yang menyatakan bahwa pengamatan diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Ini berarti pengamatan harus dilakukan dengan teliti dan cermat, dengan demikian pengamatan tidak dapat dilakukan secara bersamaan dengan wawancara, karena tidak mungkin pengamatan yang dilakukan bersamaan waktu dengan wawancara akan mendapatkan hasil teliti dan cermat.
5).Mengacu pendapat dari Kerlinger (1986 terjemahan Simatupang, 1990: 857) yang menyatakan pengamatan dalam konteks penelitian kualitatif situasi yang diamati harus realistik dan alami (naturalistik), maka pendapat Banister dkk (1994 dalam Poerwandari, 1998: 62) yang menyatakan observasi dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun konteks alamiah, maka pernyataan bahwa observasi dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) harus diartikan observasi tersebut dilakukan dalam rangka penelitian kuantitatif. Disini eksperimen direncanakan dan dilaksanakan oleh si peneliti. Subjek yang diteliti dalam eksperimen penelitian kuantitatif berperan sebagai objek eksperimen. Observasi dapat pula dilakukan dalam penelitian kualitatif apabila eksperimen disusun dan dilakukan oleh peneliti lain, si peneliti mengamati subjek yang diteliti dalam eksperimen tersebut dalam situasi apa adanya. Subjek yang diteliti tidak menjadi objek eksperimen dan tidak tahu kehadiran observer (eksperimen dengan laboratorium berkaca).
6).Agar dapat berfungsi sebagai metoda dalam penelitian ilmiah pengamatan harus dilakukan sesuai persyaratannya. Apabila hal tersebut dilakukan maka akan memperoleh data yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan (Suparlan, 1994: 62). Peneliti dalam penelitian ilmiah dengan menggunakan teknik pengamatan harus memperhatikan 8 (delapan) hal, yaitu: a) ruang atau tempat, b) pelaku, c) kegiatan, d) benda-benda atau alat-alat, e) waktu, f) peristiwa, g) tujuan, h) perasaan subjek yang diteliti.














7).Mengacu pendapat beberapa penulis Flick (2002: 136) menyatakan terdapat 7 (tujuh) tahap dalam pelaksanaan observasi, yaitu:
a).Melakukan seleksi terhadap setting penelitian.
b).Mendefinisikan apa yang dapat didokumentasikan dalam observasi dan dalam setiap kasus.
c).Melakukan latihan bagi peneliti tentang aturan-aturan yang harus ditaati dalam melakukan pengamatan sesuai fokus-fokus penelitian yang direncanakan.
Catatan penulis: fokus penelitian dapat berubah sesuai kondisi dilapangan.
d).Mendiskripsikan apa yang akan dilakukan dilapangan.
e).Memokuskan observasi pada aspek-aspek yang relevan dengan pertanyaan penelitian.
f).Menyeleksi apa yang diobservasi dengan mengutamakan aspek-aspek pokok.
g).Mengakhiri observasi apabila tujuan observasi telah tercapai artinya apa yang akan diobservasi tidak dapat dikembangkan lagi karena telah sesuai dengan teori yang mendasari, dan tidak akan mendapatkan data-data baru lagi yang memberikan pengetahuan baru.